Opini : Saat ini menciptakan kegiatan sehari-hari lain terkait aplikasi tahun akademik baru, aplikasi proses pembelajaran, & penggunaan fasilitas dan layanan kampus. Termasuk aktivitas pendidikan yg lebih cenderung memakai sistem daring online.
Banyak kalangan mahasiswa mengaku bahwa aktivitas yg dilakukan ketika ini sangat terbatas & memerlukan adaptasi baru. Terutama dalam aktivitas mahasiswa baik menurut mahasiswa baru sampai mahasiswa semester akhir khususnya.
Menuju transisi New Normal Life pada ranah Organisasi Mahasiswa. Berbicara organisasi mahasiswa, yg selama ini membisu & pada guncangan dikarenakan Pandemi covid 19, Pandemi Covid yg mulai masuk pada Indonesia maret 2020 telah hampir dua tahun melanda Indonesia.
Dilihat menurut global perkulihaan poly sekali mahasiswa yg apatis, yg lebih mementingkan diri sendiri. Perkulihaan yg pada lakukan secara daring dalam ketika Ini menciptakan mahasiswa cendrung nir melakukan diskusi & yg lebih mementingkan konten yg jelas. Mahasiswa pada Era New Normal misalnya ini jua sanggup menyalurkan kreativitasnya menjadi bentuk peduli supaya mengedukasi pada para masyarakat, misalnya pembuatan konten video education.
Di ketika bersamaan, syarat Negara Indonesia yg sedang memasuki era insentif demografi dimana hampir secara umum dikuasai masyarakatnya merupakan pemuda yg melek dengan teknologi & sangat senang menggunakan anugerah edukasi menggunakan konten grafik disinyalir bisa menggoda supaya mau tahu pentingnya protokol kesehatan pada era new normal ini agar bentuk kajian pada minati pulang sang mahasiswa.
Mahasiswa memang sebagai keliru satu stakeholder pada Era New Normal ini, akan tetapi permanen wajib menerima fasilitas supaya para mahasiswa sanggup menyebarkan seluruh kreativitasnya agar berkontribusi menjaga kiprah nya pada menghadapi Era New Normal ini.
Selain itu, mahasiswa juga membutuhkan poly saran aktivitas apa yg bisa menciptakan pada Era New Normal ini, lantaran Era new normal mendorong kita agarmenguasai teknologi & mengembangkannya pola berpikir kreatif & inovatif perlu melakukan kajian pada masa lampau kepada demisoner yang mengetahui aktivitas kampus yg pernah ada yang dilakukan secara luring.
Harapannya semua stake holder yg terdapat pada elemen Organisasi Mahasiswa Kampus sanggup sinergisitas agar membangkit semangat Organisatoris mahasiswa yg lain demi kemajuan bersama beserta kolabrasi menggunakan semua element agar memperkuat tujuan mahasiswa menjadi agent of change.
Andy Riski Pratama (Presiden Mahasiswa IAIN bukittinggi Periode 2022/Bendahara Umum Komtar Periode 2019/2020)
Berdasarkan glosarium konstitusi HMI, Kader adalah sekelompok orang yang terorganisir secara terus menerus dan akan menjadi tulang punggung bagi kelompok yang lebih besar. seorang kader bergerak dan terbentuk di dalam organisasi, mengenal aturan-aturan permainan organisasi dan tidak bermain sendiri sesuai dengan selera atau kepentingan pribadi nya. Bagi HMI sendiri aturan tersebut dilihat dari segi nilai/ideologi HMI yaitu Nilai-nilai Dasar Perjuangan (NDP) untuk memaknai perjuangan sebagai alat untuk mentransformasikan nilai nilai ke-Islam-an yang membebaskan (liberation force), dan memiliki kerberpihakan yang jelas terhadap kaum tertindas (mustadhafin). Sedangkan dari segi operasionalisasi organisasi, dapat dilihat dari AD/ART HMI, pedoman perkaderan, Pedoman Dasar Kohati (PDK), serta ketentuan organisasi lainnya.
Berkaca pada realitas kader di zaman sekarang kita tidak dapat menutup mata terhadap pergeseran nilai-nilai yang terjadi. Adapun nilai-nilai yang dimaksud adalah nilai-nilai keislaman yang termaktub dalam NDP HMI. Jika NDP merupakan ideologi yang dianut oleh setiap kader HMI, maka tentu saja internalisasi nilai-nilai tersebut tidak bisa di jalan kan secara sebagian, atau seperempat nya saja. Ia harus di jalan kan secara keseluruhan. Sebab ideologi itu sendiri merupakan doktrin nilai yang menjadi acuan dalam bertindak. Sebagaimana dijelaskan di atas, seorang kader tidak bisa bermain sesuai dengan selera atau kepentingan pribadi nya. Karena di setiap organisasi pasti memiliki aturan main tersendiri. Termasuk di tubuh HMI yang menjadikan NDP sebagai ideologi nya. Lalu bagaimana mungkin NDP hanya di jadikan teks tak bernyawa yang berjarak dari realitas kader HMI?
Untuk menguji pertanyaan di atas kita awali dengan hipotesa berikut. Mungkin, kita akan sangat mudah menyebutkan siapa-siapa saja kader yang menyimpang dari Ideologi HMI di zaman sekarang. Tapi akan sangat sulit sekali menyebutkan siapa kader HMI yang benar-benar mengamalkan ideologi HMI. Hal ini menunjukkan bahwa ada jarak yang membatasi antara kader dan ideologi nya. NDP sudah seperti menara gading yang tidak dapat bersentuhan dengan realitas. Kesulitan disini pun menunjukkan ada nya krisis yang sedang terjadi.. Kemungkinan nya ada tiga, yaitu personal kader yang bermasalah, Penerapan regulasi, atau anomali kultur. Yang mana ketiga hal tersebut tidak terlepas dari peranan perkaderan dalam membentuk nya. Sehingga polemik ini membuat kita di suguh kan oleh pertanyaan ; Lantas apa yang di amal kan oleh kader HMI jika bukan ideologi nya ?.
Secara simplistis kita bisa menjawab, bahwa apa yang mereka amal kan tersebut sesuai dengan pilihan bebasnya. Terlepas dari apakah itu menyimpang atau tidak yang jelas pilihan bebas tersebut adalah otoritas nya dalam wujud kebebasan eksistensial. Terkadang makna kebebasan dan kemerdekaan di HMI pun juga sering di salah pahami. Seperti pernyataan jika Ideologi adalah doktrin nilai, tentu saja ini bertentangan dengan konsep kebebasan dan kemerdekaan. Sebab doktrin itu menggadaikan nya. Sebagaimana sifat doktrin itu sendiri yang imperatif. Padahal tidak sesederhana itu, karena NDP pun merupakan akumulasi nilai-nilai yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits yang dapat di uji kebenaran nya.
NDP sendiri bukan lah sebuah teks yang tercipta secara instan. Ia adalah teks yang mengalami serangkaian proses nan panjang. Di mulai dari 1963, sampai di sah kan pada 1971. Bertahan nya NDP sampai sekarang adalah representasi dari kebenaran tersebut. Sebagaimana dikatakan dalam pepatah minang “Yang benar itu tahan banding” . di NDP Bab I di jelaskan bahwa Kepercayaan harus di arah kan kepada kebenaran, sebab kebenaran adalah kebutuhan manusia. Adalah hal yang bias rasanya ketika NDP berbicara tentang kebenaran namun ia jauh dari kebenaran itu sendiri. Apalagi ia bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits. Sehingga tak mungkin jua NDP sebagai ideologi mengajak penganut nya ke jalan yang salah. Dengan demikian, memilih NDP sebagai ideologi tidak akan menggadaikan pilihan bebas. Karena tentu saja setiap manusia yang hanif secara fitrah mesti memilih pilihan yang benar.
Sementara dalam hal lain, secara ontologi memang kebebasan dan kemerdekaan manusia itu mutlak. Namun freedom disini tidak bisa di bentur kan dalam hubungan sosial. Maka dari itu dibentuk lah sebuah regulasi yang disebut sebagai liberti atau persetujuan-persetujuan sosial agar tidak terjadi chaos antara individu yang satu dengan individu lain nya. Misalnya seseorang yang bersekolah. Di samping ia memiliki kebebasan eksistensial, ia juga mesti mengikuti regulasi yang terdapat di sekolah tersebut.. Jika tidak tentu saja ia memiliki potensi untuk di keluar kan. Pun sama hal nya dengan di HMI. Anda memiliki kebebasan eksistensial untuk mengaktualisasikan diri, akan tetapi anda juga harus mengikuti regulasi yang ada di HMI. Khusus nya, menjadikan NDP sebagai ideologi.
Jika di integral kan dengan kondisi HMI sekarang. Kita seperti tersesat di laut lepas lalu menengadah kan doa agar selamat. Padahal keharusan universal (takdir) tidak mempan di doa kan tanpa ada nya ikhtiar yang maksimal. sikap pasrah terhadap realitas inilah yang menjadikan kita kontra revolusioner. Bahkan bukan hanya pasrah, tapi ada juga yang tidak atau kurang memiliki kepekaan sosial sebab lebih bersandar pada prinsip individualistik. Serta ada yang berprinsip sosialis yang menerapkan prinsip kolektivitas namun menolak prinsip-prinsip individu. sedangkan Islam hadir untuk mengintegrasikan keduanya. memang sejatinya manusia tidak dapat melawan sunnatullah, keharusan universal atau takdir. akan tetapi manusia tidak boleh pasrah terhadap keadaan.. Ia harus terus berikhtiar secara maksimal.
Hal fundamental yang harus kita jawab hari ini adalah mengapa Doktrin NDP yang tak pernah absen dalam setiap aktivitas perkaderan baik itu training, follow up, dll malah mengalami disintegrasi dengan kader HMI. Harusnya antara ideologi dan penganutnya mesti dipandang sebagai sesuatu yang integral. Secara fakta sosial nya kita kerap menemukan seorang kader yang kaya akan pengetahuan mengenai NDP, tetapi miskin dalam pengamalan nya. Padahal di BAB II di terangkan bahwa “kehidupan manusia dinyatakan dalam kerja atau amal perbuatan nya.
Sebagaimana dijelaskan dalam QS.At-taubah (9) : 105 yang artinya “Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” Dalam Qs.An-Najm (53) : 39 juga dijelaskan “dan bahwa manusia hanya memperoleh dari apa yang telah diusahakannya”. Jadi Nilai-nilai tidak dapat dikatakan hidup dan berarti sebelum menyatakan diri dalam kegiatan-kegiatan amaliah konkret”. Tentu adalah hal yang keliru tatkala nilai-nilai yang terdapat didalam teks NDP tidak dihidupkan melalui kegiatan amaliah yang konkret. Apalagi yang meninggalkan nya adalah kader-kader HMI yang mengerti dan memahami nilai-nilai tersebut. Dalam QS.Ash-Shaff (61) : 2-3 dijelaskan bahwa, “Wahai orang-orang beriman! Mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan? (itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa saja yang tidak kamu kerjakan”.
Baik NDPers maupun kader-kader HMI hendaknya mesti menyelaraskan antara ucapan dan perbuatan. Apalagi dalam menyampaikan materi NDP. Sebab, jika kita tidak konsekuen tentu saja itu adalah perbuatan yang sangat dibenci Allah. Namun perbuatan itu tak hanya amaliah yang bersifat jasmani saja, namun juga amaliah yang bersifat rohani. Sebagaimana yang di ungkapkan dalam Bab II : Kerja mental dan Fisik merupakan suatu keseluruhan. Kerja jasmani dan rohani bukan lah dua kenyataan yang terpisah. Malahan dia tidak mengenal perbedaan. Oleh sebab itu, akumulasi nilai-nilai yang terdapat di NDP hendaknya memiliki implikasi yang sangat luas. Kader-kader HMI mesti mengimplementasikan nilai-nilai tersebut dengan kerja (amal) yang ikhlas.
Dari sekian banyak problem yang muncul di HMI saat ini tak terlepas dari minimnya pengaplikasian nilai-nilai yang terdapat di dalam NDP, sehingga banyak kemunduran-kemunduran yang terjadi. Bagaimana mungkin sesuatu dapat dikatakan nilai ketika ia tidak melembaga dalam bentuk perbuatan. Apalagi status kita sebagai hamba dan khalifah di muka bumi, tentu saja hal ini membutuhkan sebuah tindakan-tindakan amaliah yang konkret. Sehingga nya kita tidak bisa meletakkan NDP sebagai ruang dialog intelektual semata, namun harus bersentuhan pula dengan realitas melalui pengaplikasian nilai-nilai nya. Sebab itu kita perlu merekonstruksi kembali posisi NDP sebagai ideologi HMI.
Untuk merekonstruksi hal tersebut, ada beberapa hal yang mesti kita perhatikan. Pertama, Paradigma Kader HMI. Kedua, Penyajian NDP. Ketiga, Pengaplikasian atau internalisasi nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini saya kira sangatlah penting untuk memperjelas posisi dan status NDP bagi kader HMI selain dari integrasi NDP dengan materi-materi HMI yang lain. Pertama, Paradigma. kita tak dapat menafikan bahwa cara pandang kita terhadap sesuatu akan melahirkan suatu nilai yang mempengaruhi cara bersikap dan bertindak. Oleh karena itu Paradigma kader hendaknya memahami NDP sebagai Ideologi atau alat untuk berjuang yang mesti diaktualisasikan. Jadi NDP tidak hanya matang secara konseptual, tapi juga matang secara aktual. Kedua, Penyajian NDP khususnya bagi setiap NDPers harus mampu disajikan dengan cara yang membumi. Banyak kader yang mengalami kesulitan-kesulitan dalam memahami NDP disebabkan oleh cara penyajian yang terlalu kompleks dan melangit, bahkan terkadang memiliki sisi yang kontradiktif.
Artinya sampaikan lah interpretasi terhadap teks NDP itu secara sederhana yang akan menjadi nilai-nilai aktualisasi, terutama dalam hal-hal substansial di NDP. Boleh di uji dari sekian banyak kader HMI banyak yang tidak mengenal, memahami dan mendalami ideologi organisasinya. Tak jarang kita menemukan kader-kader yang tidak mengetahuinya, padahal itu adalah ideologi HMI. Dulu PKI dapat tumbuh dan berkembang dengan pesat karena doktrin ideologi mereka yang wajib diketahui dan diamalkan oleh setiap kader-kadernya. termasuk dengan ideologi-ideologi lain, mereka tumbuh karena memegang teguh prinsip-prinsip ideologi mereka yang di internalisasikan ke dalam relung peradaban. Substansi ideologi tetap dipegang, tapi nilai-nilai nya dikembangkan sesuai kondisi zaman agar relevan sebagaimana ideologi komunisme dan sosialisme yang kita saksikan di masa sekarang. Oleh karena itu menjadi sebuah kewajiban pula bagi seorang kader untuk mengetahui ideologi nya dan yang menyajikan nya hendaklah memakai cara dan bahasa yang membumi supaya menemukan titik aktualisasi yang konkret.
ketiga, Pengaplikasian. Keseluruhan isi teks NDP memiliki substansi yaitu beriman,berilmu dan beramal. Iman membutuhkan pengamalan, ilmu berfungsi untuk ditransfer ke orang lain dan diamalkan. Jadi inti dari keseluruhan teks NDP adalah pengamalan atau pengaplikasian. Sangat disayangkan jika sebuah konsep yang kaya akan nilai-nilai tidak terjamah atau tersentuh menjadi kegiatan amaliah konkret. Kalau lah pengamalan NDP dilakukan oleh setiap kader, saya kira itu akan memberikan dampak yang sangat signifikan bagi HMI, Umat Islam dan Bangsa Indonesia dalam membangun peradaban.
Jadi, sudah saatnya kader HMI menyatu dengan ideologinya. Ketahuilah, Seorang samurai yang handal tidak hanya mampu memegang pedang tetapi juga mampu menyatu dengan pedangnya. Dan itu hanya mungkin dilakukan oleh orang-orang yang mampu menjiwai sesuatu, bahkan benda mati sekalipun seolah menjadi hidup karena penjiwaan nya. Hari ini kita telah memiliki peralatan berjuang, tinggal bagaimana kita menggunakan nya. Dan orang-orang yang menjiwai HMI, pastinya akan menyatu dengan ideologi HMI. Karena NDP sejatinya adalah peralatan untuk membangun peradaban.
Sekian terimakasih, semoga semua makhluk berbahagia !
Febri Trifanda (Sekretaris Umum Badan Pengelola Latihan Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Bukittinggi Periode 2020-2021)
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini merupakan sebuah peradaban baru yang dicapai oleh umat manusia. Dinamisasi era kini menuntut konektivitas dalam segala hal (Internet of Thing). Istilah ini kemudian dikenal dengan Revolusi Industri 4.0.
Di masa yang serba modern ini kita selaku kader HMI dituntut untuk bisa beradaptasi dengan teknologi. Hal ini juga dimuat dalam AD HMI pasal 5 (usaha) pada poin 4 yaitu “mempelopori perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi kemaslahatan masa depan umat manusia“, ini selaras dengan salah satu ciri kader HMI yakni Insan Pencipta.
Kader HMI haruslah kreatif dan inovatif. Kader HMI dituntut untuk mampu mengembangkan ataupun menciptakan sesuatu yang memiliki dampak bagi masyarakat. Sudah barang tentu kader HMI dengan segala potensial yang ada pada dirinya harus bisa menciptakan sesuatu yang memiliki daya guna dan bermanfaat bagi masyarakat.
Menurut penulis, hal sederhana yang bisa dilakukan oleh kader hmi saat ini adalah berusaha mencerdaskan masyarakat. Dengan segala kemudahan dan akses digital kita bisa menyebar kajian-kajian keislaman, kemahasiswaan, kebangsaan, dan hal-hal menarik positif lainnya.
Banyak sekali wadah yang ditawari saat ini seperti blog, youtube, instagram, facebook, tiktok dan lain sebagainya.
Karena permasalahan hari ini adalah banyaknya kita temui berita-berita hoax dan konten-konten pembodohan beredar sejalan dengan penyebaran informasi yang kian cepat.
Maka dari itu, sudah menjadi tugas HMI untuk bisa menjawab tantangan hal yang demikian. Mengingat HMI adalah laboratorium intelektual dengan berbagai disiplin keilmuan yang dimiliki oleh kelompok intelegensia-nya lebih bisa untuk memberantas kasus tersebut.
Mengutip tulisan Prof. Dr. H. Agussalim Sitompul dalam bukunya 44 indikator kemunduran HMI, beliau mengatakan “semua permasalahan menuntut konstribusi HMI dalam menghadapi perubahan dan pergantian zaman sehingga mampu menyongsong masa depan yang lebih baik. Oleh karena itu HMI sudah siap, serta memiliki kemampuannya dengan beragam ilmu pengetahuan dan teknologi. Sesuai dengan predikat yang disandangnya HMI harus mampu menampilkan sikap dan perilaku yang positif, kreatif dan konstruktif, sesuai dengan ciri khas kemahasiswaannya, keislaman dan keindonesiaan, yang senantiasa melibat dan tertatanan kuat pada dirinya”.
Sudah barang tentu kader HMI bisa menjawab tantangan zaman hari ini. Lain dari gagasan yang telah penulis paparkan, tentu masih banyak ide kreatif dan tantangan yang mesti dijawab oleh kader HMI. Penulis sangat yakin dan percaya HMI tidak kekurangan kader hebat didalamnya, namun pertanyaannya; sudah sejauh mana kita berbuat? apa saja yang sudah kita berikan pada HMI?
Dengan menanamkan mindset demikian mudah-mudahan kita sebagai pelanjut mission sacre semakin terpacu dan terstimulus untuk berkreasi dan berinovasi untuk bisa merealisir cita-cita umat dan bangsa yakni terciptanya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT.
Opini : Indonesia merupakan Negara yang kaya suku bangsa dan agama , dan juga budaya budaya yang sangat kayanya. Hal ini menjadikan Indonesia begitu indah dengan aneka keberagaman yang dimilikinya. Tak jarang keberagaman ini menjadi salah satu nilai ciri Khas yang dimiliki Indonesia. Sebagai orang Indonesia yang lahir , besar , bersekolah dan mencari kehidupan di negeri Indonesia yang kita cintai ini tentu cinta nya terhadap Indonesia sangatlah dalam.
Sebagai seorang anak muda yang tinggal di era perubahan dan perkembangan pesat baik secara teknis maupun yang berkala, mahasiswa diharuskan untuk dapat menjadi kritis dan peka terhadap semua bentuk masalah dan polemik yang sering menemani perjalanan mereka sebagai mahasiswa. Berbicara tentang masalah mahasiswa berarti kita berbicara tentang perubahan dan kemajuan yang ada di Indonesia mengingat ingatan pada tahun 1928 ketika kaum muda menantang satu suara dari perubahan yang kemudian dikenal sebagai Sumpah Pemuda, kemudian pada tahun 1945 ketika kaum muda memaksa dan mendesak orde baru untuk dapat dengan cepat mengiritasi kemerdekaan meskipun situasinya didesak dan ada kemerdekaan hari itu pada 17 Agustus 1945. Itu tidak melupakan periode 1998 yang memiliki banyak kisah pendudukan mahasiswa di gedung Parlemen yang Membuat bangsa Indonesia keluar dari zona Orde Baru sebagai awal dari langkah-langkah baru di negara ini.
Begitu banyak pengalaman yang telah ditulis dalam sejarah oleh para remaja putra khusus untuk mahasiswa. Mahasiswa telah menjadi saksi hidup untuk berubah demi perubahan di Indonesia. Aktivis kampus dilahirkan melalui gerakan mahasiswa. Nama harum dari mahasiswa di antara orang-orang yang pasti membuat mahasiswa tersentak dan hanya berhenti, nama-nama harum yang dapat mereka perjuangkan untuk mengorbankan jiwa dan tubuh mereka untuk mempertahankan hak-hak rakyat dan memperjuangkan ketidakadilan terhadap rakyat. Mahasiswa tampaknya telah menjadi pahlawan terpisah bagi orang-orang ketika tidak ada perwakilan orang yang membela minat mereka. Mahasiswa analog dengan ujung tombak perjuangan rakyat yang ditindas oleh otoritas pemerintah berkuasa dan tidak lagi berpihak pada orang-orang. Perjuangan tak kenal lelah ini membuat salam untuk hidupnya, orang-orang Indonesia selalu memisahkan berteriak yang mendorong dengan kehidupan mereka dari gerakan mahasiswa Indonesia.
Atas dasar persentase ketidakpuasan publik dengan tindakan kebijakan pemerintah, mahasiswa dengan semua intelektualnya diberhentikan dan memainkan peran mereka sebagai agen perubahan atau bagian dari pembawa perubahan dalam relai. Agen perubahan yang dimainkan oleh mahasiswa tampaknya digunakan sebagai tanggung jawab besar yang harus ditanggung bersama pada bahu mahasiswa.
Tanggung jawab yang dibasahi pada mahasiswa harus diduga sebagai tanda bahwa mahasiswa selalu dapat dipercaya sebagai konektor lidah komunitas, sebagai pengganti ketika orang-orang tidak dapat menyuarakan keluhan mereka kepada pemerintah. Jenis kepercayaan ini harus dapat dimodifikasi sedemikian rupa sehingga dapat berjalan dengan sempurna oleh mahasiswa melalui tingkat dan pengalaman ilmiah.
Hadiah yang begitu indah ketika kepercayaan diterima oleh mahasiswa, mahasiswa mungkin tidak membuangnya. Keterbatasan yang tembus cahaya dan mencapai prestasi bergengsi dengan menegakkan kejujuran Akad. Adab harus selalu dipertahankan oleh mahasiswa, karena bagaimanapun juga, ada posisi yang lebih tinggi daripada sains. Orang yang beradab pasti akan tahu bagaimana cara menggunakan ilmiah mereka dengan benar, orang-orang beradab akan selalu menginventarisir diri mereka sebagai contoh yang baik bagi siapa pun. Sikap dan sifat ini harus menempel pada mahasiswa.
Agama mengambil peranan penting dalam keberadaan suatu masyarakat atau komunitas. Karena suatu agama atau kepercayaan akan tetap langgeng jika terus diamalkan oleh masyarakat secara kontinu.
Masyarakat adalah golongan besar atau kecil terdiri dari beberapa manusia, yang dengan atau karena sendirinya bertalian secara golongan dan pengaruh mempengaruhi satu sama lain. Dalam hal ini, melihat kepada kondisi masyarakat maka agama dapat dibedakan dalam dua tipe, yaitu : agama yang hidup dalam masyarakat sakral dan agama yang hidup dalam masyarakat sekuler. Sumbangan atau fungsi
agama dalam masyarakat adalah sumbangan untuk mempertahankan nilai-nilai dalam masyarakat. Sebagai usaha-usaha aktif yang berjalan terus menerus, maka dengan adanya agama maka stabilitas suatu masyarakat akan tetap terjaga.
Sehingga agama atau kepercayaan mengambil peranan yang penting dan menempati fungsi – fungsi yang ada dalam suatu masyarakat. Moderasi beragama (Islam) sikap yang berada di tengah (moderat) dalam mengekspresikan pemahamannya agamanya, baik agama dalam dimensi spiritual, sosial, budaya maupun politik sehingga bersikap toleran terhadap ekspresi keberagamaan yang berbeda dengan dirinya.
Dalam beragama ada lima dimensi agama dalam diri manusia, yakni dimensi keyakinan (ideologis), dimensi peribadatan dan praktek keagamaan (ritualistic), dimensi penghayatan (eksperensial), dimensi pengamalan (konsekuensial) dan dimensi pengetahuan agama (intelektual) Radikalisme merupakan akar dari terorisme. Radikalisme dan terorisme dinilai sebagai ancama nyata bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)
Peran pelajar dan mahasiswa dinilai sangat penting dalam upaya mencegah penyebaran paham radikalisme.
Selain itu, mahasiswa juga merupakan agen perubahan sekaligus generasi penerus bangsa. Maka, penting bagi mereka untuk mendapatkan pemahaman dan wawasan yang lebih tentang ilmu agama. Supaya mahasiswa juga bisa membantu mewujudkan kerukunan umat beragama
Dalam upaya mencegah penyebaran paham radikalisme dan terorisme, mahasiswa penting dilibatkan. Sebab, mahasiswa juga bisa menangkal gejala radikalisme dan terorisme dengan intelektual yang dimiliki Paham radikal sendiri, radikalisme menyerang orang yang mempunyai paham agama yang rendah .
Maka, mahasiswa sebagai agen perubahan sekaligus generasi penerus bangsa harus memiliki pemahaman yang lebih. Tujuannya agar mahasiswa tidak mudah disusupi pemahaman yang menyimpang itu karena peran mahasiswa sangatlah penting untuk membrantas paham radikalisme yang ada di NKRI ini.
Berbicara tentang sejarah, hal ini sejenak mengingat kan training saya di HMI dalam kurun waktu 2 tahun ini yaitu Intermediate training (LK2) dan Senior Course (SC). Pada intermediate training saya mengambil tema makalah yang berkaitan dengan sejarah HMI, kemudian di Senior Course (SC) saya mengambil Sindikat tentang Sejarah juga yang memuat tentang Sejarah Peradaban Islam, sejarah Islam masuk ke Nusantara dan Sejarah HMI. sehingga nya berbicara tentang sejarah HMI bukanlah suatu hal yang asing lagi bagi saya. Karena di training saya telah ditempa untuk benar-benar telaten dalam memahami sejarah HMI. Walaupun masih banyak hal juga yang belum saya ketahui akibat referensi yang boleh dikatakan kurang cukup untuk bisa mendalami keseluruhan alur nya. Namun dengan tempaan itu setidaknya saya telah merangkum juga poin² dasar yang menjadi alur sejarah perjuangan HMI yang mana hal ini telah memproduksi perspektif baru dalam pikiran saya dan tentunya sesuai dengan kapasitas dan kualitas pikiran saya sejauh ini.
Pada umumnya sejarah dapat didefinisikan sebagai peristiwa yang benar-benar terjadi dimasa lampau yang dapat dibuktikan kebenarannya. Sehingga nya untuk membuktikan itu semua dibutuhkan 3 instrumen didalam nya yaitu : Manusia, tempat dan waktu. Ambil misal begini, kita ingin mencari tahu kebenaran dari seorang tokoh. Kita harus cari tau namanya terlebih dahulu, misalkan nama nya Thales. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang Thales maka anda harus mencari tau ia berasal dari mana, atau tinggal dimana atau sedang berada dimana. oh ternyata Thales berasal dari Yunani kuno. untuk benar-benar mengetahui kebenarannya lebih jauh lagi anda mesti mengetahui kapan ia hidup?. jika sekiranya anda tidak mengetahui nya maka akan sangat susah melacak kebenaran dari tokoh yang anda cari Tsb karena boleh jadi di Yunani itu ada banyak orang yang bernama Thales. nah untuk memudahkan nya maka kita memerlukan informasi tentang waktu. oh ternyata Thales hidup pada abad ke 6 sebelum masehi. sehingga nya hal ini semakin memudahkan Anda untuk mengetahui kebenaran nya lebih lanjut.
Secara bahasa sejarah berasal dari kata “Syajaratun” dalam bahasa Arab yang berarti “Pohon kehidupan”. jika kita lihat pohon itu memiliki batang , memiliki akar dan seterusnya. ia tumbuh kemudian mati. Begitu juga halnya dengan sejarah yang juga memiliki pasang surut dengan rentetan perjalanan yang dinamis. Pada dasarnya manusia sering atau suka belajar dari sejarah, sehingga sejarah kadangkala menjadi salah satu aspek pembelajaran dalam kehidupan. seperti dalam ungkapan pepatah minang “Baraja ka nan alah sudah” (Belajar ke yang telah lewat/terjadi). Terkait sejarah, kita bisa contoh kan secara lebih sederhana lagi. ambil misal begini, hari ini anda duduk di sebuah cafe simpang presiden dengan membeli nasi goreng dan kopi susu. Pada keesokan harinya ketika Anda pergi ke cafe itu kembali maka peristiwa sebelum nya di cafe itu merupakan sejarah bagi diri anda bahwa sebelum nya anda pernah bertandang di cafe itu. Dalam Contoh lain dicafe itu misalkan anda pernah mengalami peristiwa tragis yaitu diputuskan oleh kekasih anda, pada waktu berikutnya anda bertandang di cafe itu momen diputuskan itu adalah representasi dari peristiwa sejarah yang pernah terjadi di diri anda. Sederhana nya, apa yang pernah terjadi dimasa lalu bagi diri kita itu adalah bagian dari sejarah. ini dalam tataran internal diri saja, dalam eksternal diri pun juga relatif sama dengan sejarah di wilayah internal diri.Sekarang kita coba masuk pada konteks pembahasan sejarah HMI.!
Atas semua torehan sejarah yang pernah dilakukan oleh HMI untuk umat dan bangsa Indonesia dari sejak awal berdirinya pada 1947 tentu nya sangat layak ketika HMI ditempatkan sebagai salah satu organisasi yang kapabel , berkualitas, berdedikasi tinggi serta organisasi elite yang pernah dimiliki oleh bangsa Indonesia. Mengapa demikian? pasalnya HMI telah melewati berbagai dinamika keislaman dan keindonesiaan secara masif sebagai katalisator umat dan bangsa Indonesia. Kita bisa melihat pada fase perjuangan fisik yang pertama pada tahun 1948 dimana kader-kader HMI turut berpartisipasi untuk melumpuhkan gerakan pemberontakan PKI nya Muso yang ingin mengambil alih kekuasaan dengan menguasai berbagai tempat seperti di Madiun dan Solo. PKI dinyatakan sebagai pengkhianat karena ingin menusuk bangsa Indonesia yang baru saja merdeka dari belakang dengan cara mengkudeta kekuasaan. Kader-kader HMI kalau itu banyak yang dilatih oleh militer sehingga mereka membentuk suatu kelompok yang disebut sebagai Corps Mahasiswa (CM) dan berpartisipasi bersama dengan militer untuk memberantas pemberontakan PKI. Akhirnya pemberontakan itu pun dapat dilumpuhkan.
Ada fakta menarik pada tahun 1948. Tepatnya pada 05 februari ditahun itu dalam acara Diesnatalis HMI yang pertama Jenderal Soedirman mengatakan dalam sambutan nya bahwa “HMI tidak hanya sekedar Himpunan Mahasiswa Islam, namun HMI juga berarti Harapan Masyarakat Islam Indonesia”. Kata-kata ini lazim dipakai hingga era sekarang oleh kader-kader HMI. Selanjutnya, pada tahun 1949 bangsa Indonesia kembali di uji eksistensi nya. dimana Belanda melakukan agresi militer ke Indonesia sebab mereka tak rela bangsa Indonesia merdeka secara cuma-cuma saja. Agresi militer pun terjadi. HMI pun turut membantu militer dalam upaya mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia tersebut. Walau akhirnya upaya perjuangan fisik ini berakhir dengan jalan diplomasi di Konferensi Meja Bundar (KMB) 27 Desember 1949. pada tahun-tahun berikutnya dari tahun 50 an hingga pertengahan 60 an HMI juga mengalami ujian eksistensi. dimana PKI bangkit kembali dan semakin gencar menyerang HMI dalam bentuk perlawanan politik. apalagi setelah Masyumi dibubarkan, mereka sering mendengungkan bahwa HMI adalah organisasi yang kontra revolusioner.
PKI pun meminta pada bung Karno untuk membubarkan HMI dengan dalih tersebut. tepatnya pada tahun 1964 dimana PKI melakukan demonstrasi untuk membubarkan HMI. di spanduk mereka tertera “Ganyang HMI” “Bubarkan HMI” Lenyapkan HMI” dan seterusnya. Hal ini terjadi karena HMI dianggap sebagai batu penyandung mereka, sehingga nya mereka berupaya untuk membubarkan HMI agar rencana mereka berjalan mulus. Dalam pidatonya DN. Aidit melontarkan pernyataan serupa untuk “Mengganyang HMI”. Tatkala bung Karno memberi sambutan di kala itu, beliau menegaskan bahwa ” HMI itu adalah organisasi progresif revolusioner. Jika mereka kontra revolusioner maka aku sendiri yang akan membubarkan nya”. Sehingga nya PKI pun semakin kesal kepada HMI yang mana mereka tidak berhasil membujuk bung Karno untuk membubarkan nya. Tapi mengapa PKI sebegitu kerasnya ingin membubarkan HMI? jawaban yang paling utama adalah karena adanya rasa dendam dikalangan PKI akibat peristiwa 1948. dimana HMI turut serta melumpuhkan gerakan pemberontakan mereka.
Setelah PKI dilenyapkan oleh militer akibat pemberontakan mereka lagi pada 30-September-1965, ternyata pengujian eksistensi itu tak jua berhenti dimana HMI berjuang melawan otoritarianism atau bahkan totalitarianism orde baru kala itu. tepat pada tahun 1985, Presiden Soeharto menerapkan UU no 8 tahun 1985 tentang asas tunggal Pancasila yang mana segala Ormas, Lembaga dan seterusnya wajib berasaskan pancasila. Puncaknya terjadi pada Kongres ke 16 di Padang pada tahun 1986 dimana akibat penerapan asas tunggal ini HMI menjadi terpecah antara yang mempertahankan asas Islam dengan yang mau mengamankan eksistensi organisasi dengan Asas Pancasila. Akhirnya dari peristiwa itu lahirlah HMI dipo dan HMI MPO. kata dipo diambil dari nama jalan Diponegoro tempat sekretariat PB HMI kala itu, dan MPO berarti sebagai majelis penyelamat organisasi yang mempertahankan asas Islam. Begitu juga dengan ideologi HMI yaitu nya NDP (Nilai-nilai dasar perjuangan). kata perjuangan disini dianggap makar oleh pemerintahan orde Baru sehingga nya kata NDP pun mulai mengalami pergantian nama yaitu nya NIK (Nilai-nilai identitas kader).
Di tahun-tahun berikutnya, HMI jua turut berpartisipasi untuk meruntuhkan dominasi orde Baru kala itu pada 1998 yang kita kenal dengan sebutan Reformasi. Sehingga setelahnya HMI mulai sedikit lega dengan sistem yang lebih demokratis setelahnya. Akhirnya asas tunggal Pancasila mulai dihapuskan, HMI kembali berasaskan Islam dan NIK berubah kembali menjadi NDP pada Kongres ke 22 di Jambi tahun 2000. Dalam konteks ideologi NDP, pada Kongres ke 25 di makassar melahirkan sebuah rekonstruksi NDP yang dikenal dengan sebuah “NDP baru”. merasa bahwa NDP ini berbau Syah dan lebih dekat dengan NDP arianto maka PB HMI periode 2008-2010 melakukan evaluasi terkait masalah ini agar NDP cak Nur tetap orisinal tanpa terkontaminasi oleh pemikiran² seperti NDP baru yang dianggap tidak lebih baik dari NDP cak Nur. Pihak-pihak yang mengkritik hal ini diantara nya adalah Azhari akmal tarigan, Amrullah yasin dan Kun nurachadijat. puncaknya pada Kongres ke 27 di depok tahun 2010 NDP cak Nur ditetapkan sebagai NDP HMI.
Ada hal menarik terkait dinamika HMI pasca orde Baru runtuh, dimana ketua umum PP muhammadiyah tahun 1999 mengkritik HMI dimana ia menganggap bahwa kader HMI sekarang lebih terkonsentrasi pada intelektualitas dan mengabaikan spiritualitas sehingga nya HMI mulai mengalami fase-fase kemunduran nya. hal ini bisa kita benarkan, pasalnya setelah orde Baru runtuh HMI mulai berkonflik dengan dirinya sendiri. Entah itu karena tak ada musuh yang nyata atau karena kualitas kader yang menurun atau karena kondisi zaman yang mapan, intinya HMI mulai terjebak pada konflik berkepanjangan terhadap wujud nya sendiri. Seperti tumbuhnya feodalisme, nepotisme, kolusi afinitas dan seterusnya di dalam tubuh HMI sehingga nya kader HMI lebih sibuk mengurus internal nya saja dan melupakan wilayah eksternal nya seperti realitas sosial yang terpaut pada kemaslahatan umat dan bangsa Indonesia. Oleh sebab itu dari waktu ke waktu ruh perjuangan itu mulai terkikis perlahan-lahan. Jika dikatakan tidak ada musuh lagi di zaman ini sebab orde Baru telah runtuh dan Reformasi telah terlaksana maka ini adalah sesuatu paradigma yang keliru. Sebab Reformasi hanya sekedar berada dalam tataran peristiwa belum berpindah pada tataran aktualisasi sepenuhnya. Menjaga cita-cita Reformasi dan menjawab tantangan zaman itu adalah hal urgen yang mesti terus diperjuangkan.
Namun tampaknya dewasa ini HMI semakin mengalami kemunduran-kemunduran pencapaian. orang mungkin takkan melupakan jasa HMI di bumi pertiwi, namun kebesaran sejarah dimasa lalu tersebut seharusnya mengilhami setiap relung kader-kader HMI untuk membuat sejarah dimasa nya. G. W. F Hegel pernah mengatakan “Perlakuan paling bodoh terhadap sejarah adalah kita tidak mau belajar darinya”. Saya yakin dan percaya torehan pencapaian HMI dimasa lalu tak lepas dari ” Syukur dan Ikhlas ” dalam mendedikasikan diri secara total di HMI. Mereka sibuk berperang, bukan sibuk mengangkang. Mereka sibuk berjuang bukan mengakumulasi uang. Mereka sibuk berbuat, bukan menghujat. Sehingga nya dari mereka lah termanifestasikan segala kebesaran sejarah dimasa lalu ke regenerasi HMI yang sekarang. Akhirnya, kita hanya menjadi besar karena kebesaran yang diwariskan bukan kebesaran yang didapatkan dengan perbuatan dan perjuangan. Kita pun tampil heroik dengan kemapanan sejarah yang ada, hingga kerap mengkultuskan nya dengan euforia semata. Seringkali pengkultusan itu melalaikan kita untuk berbuat atau menorehkan sejarah baru. Karena pada keadaan yang mapan tentu saja akan membungkam kekritisan. sebagai mana ujar master mualimin bahwa Kemapanan sejatinya akan membungkam kekritisan. ini mirip dengan gerakan newleft dimasa pertengahan abad 20 dimana mereka menolak establishment (kemapanan).
Pengkultusan terhadap sejarah HMI sendiri dapat diartikan sebagai penghormatan secara berlebih-lebihan akan kebesaran sejarah HMI dimasa lampau. Dalam keadaan berlebih-lebihan seperti ini kita khawatir akan adanya keangkuhan yang muncul sebagai akibat gejala narsisitik yang membuat ia menganggap bahwa hanya organisasi nya lah yang paling superior dan heroik. Hal yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah lalai dan bungkam. Misal dalam hal asmaranisasi : orang yang baru jatuh cinta cenderung mengalami pengkultusan individu terhadap orang yang dicintainya. Bahkan dalam keadaan mabuk cinta itu ia cenderung lalai karena terbawa hasrat asmara nya yang selalu ingin berduaan, nelpon, chat dan seterusnya. Ketika orang yang dicintai ada bertindak salah/ keliru ia tetap membenarkan nya karena ia telah dibungkam oleh kemapanan cinta. begitu juga dengan pengkultusan sejarah HMI akan membuat kita seperti mabuk cinta. Oleh karena itu perlakuan kita yang paling tepat untuk sejarah adalah dengan menjadi kan nya sebagai refleksi dan barometer tindakan.
Seperti orang yang jatuh cinta, kita mesti melekat kan Rasionalitas untuk menjinakkan perasaan, karena jika tidak kita akan dibutakan oleh cinta sehingga kehilangan obyektivitas dan eksistensi. Sama seperti perlakuan kita terhadap sejarah HMI, kita jua mesti melekatkan rasionalitas di dalam nya agar tak kehilangan obyektivitas dalam menjadikan sejarah sebagai barometer tindakan. Serta tak lupa akan eksistensi diri sendiri bahwa setiap orang ada masanya dan setiap masa ada orang nya. dan hari ini adalah masa kita, serta kita lah orang nya. Namun tetap saja segala torehan mesti dijemput dengan ikhtiar, perjuangan dan dedikasi secara total dan loyal. Karena muara pencapaian adalah proses yang penuh lika-liku dengan segala dinamika dan pergolakan nya. Biarlah takdir yang menentukan akhiran nya. Oleh karena itu diabad 21 ini yang harus dilakukan oleh kader-kader HMI adalah membuat sejarah bukan sekedar mengkultuskan sejarah. Mereka yang bertindak untuk menciptakan sejarah adalah jembatan menuju kemenangan dan kematangan. sementara mereka yang hanya sekedar mengkultuskan sejarah adalah mereka yang ingin memperoleh pengakuan semata atas The great history HMI di masa lalu yang akan selalu infantil dan kalah.
Itu masa mereka dan ini masa kita. Mari berbuat, Kita hebat!. Corona menguat, HMI menggugat!.
Istilah Hiperstruktural agaknya masih asing terdengar ditelinga kita. karena dalam perkembangan bahasa dan kosa kata, kita tidak menemukan satupun istilah ilmiah yang berbicara tentang Hiperstruktural. Oleh karena nya wajar saja ketika mendengarkan istilah ini banyak yang masih merasa asing dan belum tau. Namun, berkat refleksi secara mendalam terhadap semiotika di HMI sekarang saya ingin mengkonkretkan fenomena ini dengan istilah Hiperstruktural. Lantas apa itu Hiperstruktural?
Secara sederhana kita dapat membuat taksonomi terhadap istilah Hiperstruktural ini dengan kata “Hiper” dan “Struktural”. Hiper dapat berarti berlebih-lebihan, Diluar atau terlampau, dan melampaui batas. Sementara Struktural bisa diartikan sebagai susunan, atau cara sesuatu disusun dan dibangun dengan pola tertentu. Namun, vektor dari kata struktur yang kita maksudkan disini bukan dalam kaca mata filsafat dan sosiologi, melainkan dalam sudut pandang etimologi dan terminologi secara semiotika. Sebab dalam ranah filsafat, sosiologi dll kata struktural sering diasosiasikan dengan Istilah strukturalisme dan Pos-strukturalisme. Tentunya akan menimbulkan interpretasi yang berbeda nantinya. Walaupun Semiotika juga menjadi salah satu kajian sosiologi, akan tetapi hal ini bertujuan untuk merumuskan Istilah Hiperstruktural semata. Sebab istilah struktural bisa terasosiasi bahkan terkontaminasi dengan pemikiran strukturalisme(pos strukturalis) nantinya jikalau seandainya kita tidak membuat taksonomi nya terlebih dahulu. Barangkali dalam konteks lain nanti bisa kita gunakan, tapi tidak dalam hal defenitif.
Dari uraian diatas dapat kita jelaskan bahwa Hiperstruktural adalah hasrat berlebihan untuk mendominasi orang lain, atau mendominasi sesuatu dengan menempuh nya melalui jalur kekuasaan struktural. Singkat nya Hiperstruktural dapat diartikan sebagai “Excessive will to power” (kehendak berlebihan untuk berkuasa), ” The desire to dominate” (Hasrat untuk mendominasi) and “Thirst for power or thirst for the existence of power” (Haus kekuasaan atau haus akan eksistensi kekuasaan). akan tetapi Hiperstruktural tidak bisa dimaknai sepenuhnya sebagai narsisme patologis. Karena Hiperstruktural terkualifikasi sebagai bentuk naluri instingtif manusia mencapai kepuasan eksistensi nya melalui struktural kekuasaan. yang mana struktur kekuasaan ini telah menjadi ajang superioritas. Kita bisa saja golongkan ini kedalam gejala patologis, Hanya saja keadaan yang dinamis bisa saja akan menjadi kan nya sebagai tindakan yang berkonotasi positif. oleh karena nya kita tak bisa menempatkan nya ke keranjang patologis secara integral, melainkan dinamis sesuai keadaan. Lantas bagaimana dengan Hiperstruktural di HMI?.
Kita bisa melihat bagaimana kondisi HMI hari ini yang kian hari cahaya nya mulai meredup sebagai katalisator Umat dan bangsa. Endang Saefudin anshari pernah mengatakan bahwa komitmen HMI itu adalah Komitmen keumatan, komitmen keindonesiaan, dan komitmen kemahasiswaan. agaknya komitmen ini tidak dijalankan secara konsisten sehingga banyak sekali problematika yang memerlukan resolusi namun tidak dapat di manuver oleh kader HMI yang katanya adalah katalisator. kader HMI sekarang juga lebih banyak berkutat pada politik praktis untuk mendapatkan kekuasaan struktural ketimbang menjawab tantangan dan problematika zaman. Kehausan akan menjabat di struktural ini lah yang kita sebut sebagai Hiperstruktural. Orang yang haus biasanya akan mengalami dehidrasi, untuk menghindari dehidrasi tersebut maka satu-satunya alternatif yang mesti diambil adalah menghilang kan nya dengan air minum. Sama seperti Hiperstruktural, dehidrasi akan eksistensi tersebut hanya akan menyuguhkan satu alternatif yaitu menjabat di struktural HMI. Lazimnya jabatan itu adalah posisi-posisi yang strategis.
Lalu apa alasan yang menyebabkan kader HMI era sekarang sangat haus akan struktural dan cenderung berlebihan? faktor yang paling determinan adalah kader HMI sekarang telah kehilangan kreativitas dan inovasi nya, padahal setiap kader HMI itu punya potensi dalam ordinal yang berbeda-beda. Salah satu prototipe nya adalah adanya psikis kader yang punya karakter narsistik kemudian mengambil ekstraksi dari superioritas seseorang yang ada di struktural sehingga menimbulkan kesan tersendiri baginya. Dengan demikian sikap narsistik nya akan berbuah pada “Will to power“. Contoh yang paling determinan lainnya adalah dalam soal wadah pengembangan potensi. Jika kita telisik lebih dalam tentu ada banyak sekali tempat untuk mengembangkan potensi tersebut di HMI. Seperti adanya Lembaga Pengembangan profesi yang menjurus pada bakat dan minat seorang kader entah itu kesenian, Ekonom, Pers, Menulis, Kajian-kajian intelektual melalui struktural HMI tertentu, dan sbgnya. tapi paradoks nya dari sekian banyak ladang proses yang di suguhkan tetap saja menjadi Elite di HMI atau menjabat di Struktural HMI auh lebih masif untuk dikejar dan diburu.
Kita tak bisa mengidentifikasi lebih jauh apa motivasi nya ingin mengejar struktural secara masif. Akan tetapi kita bisa membuat premis-premis untuk menguak fenomena ini. Premis pertama adalah ingin mencari popularitas dengan berada pada posisi strategis di struktural HMI. Barangkali ia ingin dapat berdiri di hadapan/di depan orang-orang pada acara Ceremonial agar tampak kharismatik, keren, dan superioritas. Sehingga berada di posisi strategis akan melanggengkan niat nya itu. Premis kedua ingin diakui eksistensi nya. Ada banyak faktor sebetulnya yang menjadikan seseorang sangat ingin dan suka sekali diakui keberadaan nya serta diterima oleh banyak kalangan. akan tetapi pengakuan disini adalah imperatif superioritas agar ia dipandang hebat, mumpuni dan berkualitas. Pada dasarnya menurut Abraham Maslow memang manusia itu membutuhkan pengakuan dari manusia lain. Akan tetapi cara mendapatkan pengakuan dan reward itu melalui “Hiperstruktural” tentu saja adalah niat dan langkah yang keliru. Pasalnya menjabat di struktural itu ditentukan oleh niat, Kualitas dan dedikasi/bertanggungjawab (Selain syarat di konstitusi). Walau secara faktual itu adalah tempat terakumulasi nya kepentingan oligarki. Akan tetapi itu adalah konteks yang lain dan mungkin bisa kita jabarkan di tulisan berikutnya. Insya Allah.
Oleh karena itu, Jangan jadikan struktural sebagai wahana permainan individu dan permainan kelompok tertentu. Karena sumpah jabatan itu adalah sesuatu yang mesti dipertanggungjawabkan di dunia maupun akhirat kelak. Sebab itu jangan jadikan ia sebagai wahana permainan. Tak ada salahnya kita mencontoh pada Ayahanda Lafran Pane sebagai salah satu Founder HMI dalam dedikasi nya. dengan ada nya HMI, Tujuan nya hanya dua yaitu mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia dan menyiarkan ajaran-ajaran Islam. Beliau cukup konsisten dalam hal ini, pasalnya hal apa saja yang bisa mengganggu tujuan ini akan dihindari nya. Bahkan agar HMI tidak diklaim di radius lingkungan kampus Lafran Pane saja, ia rela memberikan jabatan itu pada yang lain untuk membumikan HMI. bahkan pernah juga ia di legitimasi sebagai Pendiri HMI oleh Junior-junior nya kelak karena sumbangsih Lafran Pane yang begitu besar bagi HMI, akan tetapi ia tetap menolak karena baginya ia hanya salah satu founder HMI, bukan satu-satunya. disini tampak bahwa Lafran Pane secara syukur dan ikhlas mendedikasikan diri nya untuk HMI tanpa menginginkan suatu imbalan apapun baik popularitas, Reward, dan seterusnya. hal ini lah yang mesti kita contoh dari beliau dalam berproses di HMI. seperti perkataan beliau “Jangan tanyakan apa yang akan diberikan HMI kepadamu, tapi tanyakan lah apa yang sudah kau berikan pada HMI”.
Terkait Hiperstruktural, resolusi yang bisa kita tempuh ada dua yaitu :
Meluruskan niat dan Mendedikasikan diri secara ikhlas.
Dalam hadist Nabi Muhammad SAW dikatakan “Innamal a’malu binniyat” yang artinya sesungguhnya segala sesuatu itu tergantung pada niat nya. oleh karena itu meluruskan niat ber HMI adalah suatu kewajiban bagi setiap kader. karena tanpa niat yang lurus, HMI akan menjadi tempat terakumulasi nya Manusia Parasit atau Nematoda yang akan mencederai haluan HMI. setelah meluruskan niat, maka mendedikasikan diri pun mesti ikhlas dalam berbuat. Artinya tidak meminta suatu feedback dan imbalan apapun. Hanya dengan demikian setiap kader bisa mendedikasikan diri secara total dan loyal di HMI. jika sekiranya ia mengharapkan imbalan, tentu saja perbuatan nya akan cenderung setengah-setengah karena melihat feedback dan imbalan nya terlebih dahulu. Untuk itu loyalitas dan totalitas ber HMI dapat di aktualisasi kan melalui dedikasi secara ikhlas. jika sudah seperti itu, maka budaya Hiperstruktural tersebut akan terkikis dan berangsur lenyap. Sehingga nya mereka yang berada di struktural HMI adalah orang-orang yang terseleksi, terkualifikasi dan bertanggungjawab.
Meningkatkan kreativitas dan inovasi.
Dalam buku hasil Kongres HMI di pekanbaru dijelaskan bahwa HMI adalah organisasi kreatif inovatif, bukan organisasi massa. Agaknya ini adalah dikotomi yang dibuat agar HMI kembali pada citra nya. Selaras dengan itu, di tujuan HMI pasal 4 Ada Redaksi “Pencipta”. jika diturunkan atau direduksi lebih dalam maka di dalam nya juga terdapat kreativitas dan inovasi. Adalah suatu hal mustahil dari sekian banyaknya kader HMI se-Nusantara tak ada yang memiliki kreativitas dan inovatif. Oleh karena nya kegiatan-kegiatan yang melahirkan kreativitas dan inovasi mesti digencarkan agar hasrat kekuasaan dapat diminimalisir bahkan dilenyapkan. Ambil misal begini : dalam satu komisariat berjumlah sekitar 400 orang. Jika ladang pengembangan potensi dimasifkan maka kegiatan produktif akan banyak terwujud kan. Seperti ada 100 orang yang tekun di bidang tulis/menulis dan kanjan, 100 orang lagi pada bidang kesenian, 100 orang lagi pada bidang perkaderan, dan 100 lagi pada kegiatan perekonomian yang menghasilkan pendapatan penghasilan bagi komisariat tersebut untuk dana dan kas yang akan dipakai dalam berbagai kegiatan komisariat kedepan nya. Dan masih banyak contoh lain nya. Oleh karena itu peningkatan kreativitas dan inovasi secara masif dan produktif akan mendekonstruksi “Hiperstruktural” dengan sendirinya.
Semoga bermanfaat.
Kakanda Febri Trifanda (Sekretaris Umum Badan Pengelola Latihan Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Bukittinggi Periode 2020-2021)
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sudah berusia 74 tahun sejak di dekralasikannya pada tanggal 4 Februari 1947 di Yogyakarta. 74 tahun HMI berdiri dengan berbagai dinamika yang ada, baik pada tataran internal HMI ataupun eksternal HMI. Tantangan yang di hadapi HMI dahulu tentunya berbeda dengan apa yang di hadapi di masa sekarang. Jika dahulu pada fase perjuangan bersenjata (1947-1949), HMI ikut membantu pemerintah untuk menumpas pemberontkan PKI dengan memiliki pasukan khusus yaitu CM (Corps Mahasiswa) yang didirikan oleh wakil ketua PB HMI Ahmad Tirtosudiro. Pada masa sekarang HMI tidak lagi ikut serta menumpas PKI, karena PKI sudah di bubarkan. dan pasukan khusus HMI (CM) tidak dibutuhkan.
Kejayaan di masa lalu tidak kita pungkiri menjadi kebanggan tersendiri bagi kader HMI. Pada setiap acara formal maupun non formal HMI sering terdengar dari kader ataupun senior HMI mengutarakan sejarah kejayaan HMI di masa lalu. Tidak menjadi masalah kader-kader HMI membanggakan hal demikian. Namun yang kita perlu cermati bahwa kita tidak boleh terlalu euforia dengan kejayaan HMI di masa lalu hingga terjadi pengkultusan. Pengultusan sejarah kejayaan HMI memungkinkan terjadi mendiskreditkan hal lain. Wajar islam tidak menyukai hal-hal yang berlebihan; (Al-Araf:31). Cukup kita jadikan sejarah kejayaan tersebut sebagai ikhtibar bagi kita semua. Karena kejayaan di masa lalu dan situasi dan kondisi yang kita lihat pada hari ini jauh berbeda. Hari ini kita melihat permasalahan dan tantangan yang berbeda. Tentunya memiliki solusi dan jalan perjuangan yang berbeda pula.
HMI yang berperan sebagai organisasi perjuangan yang tertuang di dalam AD HMI pasal 9 bahwa HMI sudah berjuang sedari dahulu hingga sekarang baik fisik maupun non fisik. Di abad 21 ini kita di hadapi dengan perjuangan ide dan gagasan. Sebagai kader HMI yang memiliki budaya Membaca, Diskusi, dan Menulis yang runtutannya akan berbeda pada setiap kader. Kita jadikan budaya tersebut sebagai senjata untuk terus berjuang di atas jalan kebenaran. Kita membela dan memperjuangankan hak-hak kaum tertindas (mustada’afin) dan melawan kaum penindas (mustakbirin) yang tertuang di dalam pedoman perkaderan HMI. Sebelum terlalu jauh kita mulai memperbaiki dalam tataran internal HMI, baik komisariat atau cabang. Timbul pertanyaan; Apa tantangan yang di hadapi HMI di masa sekarang ? , penulis berpendapat semua kader HMI memiliki jawaban yang relatif dan beragam, tergantung permasalahan apa yang ada di masing-masing komisariat atau cabang dari kader HMI se indonesia. Tidak terlalu jauh dan lingkup besar, Penulis berusaha mengamati permasalahan pada komisariat dan cabang tempat penulis berproses untuk di kaji dan di kupas.
Sesuai dengan judul di atas bahwa penulis melihat sudah terjadinya pengikisan nilai-nilai, sikap, karakter pada kader HMI. Hal tersebut terjadi tidak hanya pada kader HMI. Degradasi moral terjadi pada kalangan milleneal di abad 21 ini. Di buktikan dengan keluarnya surat edaran etika menghubungi dosen via online di salah satu kampus yang ada di Sumatera Barat. Kominukasi online ataupun langsung tentunya memiki kesamaan dan perbedaan. Terlepas dari itu semua, kita sebagai mahasiswa seharusnya tahu dan paham bagaimana cara yang baik untuk berkomunikasi. Hal yang serupa sering di temui di kalangan HMI tempat penulis berproses. Tidak jarang terjadinya kesalahan dalam berkomunikasai via online atau secara langsung. Mulai dari tidak adanya salam dan basa-basi di awal pesan sampai kata-kata yang tidak pantas. Kuatnya rasa kekeluargaan atau dikenal rasa dan periksa (raso jo pareso) di Sumatera Barat khususnya bagi masyarkat minangkabau tidak bisa di jadikan tolak ukur untuk seseorang berprilaku baik dalam berkomunikasi. Semestinya kita bisa pelajari dan lakukan. Namun nyatanya kita yang orang minang dan juga kader HMI belum mampu untuk berkomunikasi dangan baik dan benar. Apakah karena modernisasi yang berkembang pada saat ini hingga terkikisnya budaya kita sendiri ? atau karena kader HMI hari ini tidak mengetahui tata cara berkomunikasi yang baik.
Modernisasi yang berkembang pesat yang kita lihat dan rasakan hari ini memang memiliki banyak dampak positif. Banyaknya dampak positif tidak menutup kemungkinan berbarengan dangan dampak negatif. Dalam ilmu sosiologi, ada dua bentuk sikap kita melihat budaya baru yang masuk ke budaya sendiri. Asimilasi yaitu penggabungan dua budaya (budaya sendiri dengan budaya lain) yang menghasilkan budaya baru. Sedangkan Akulturasi yaitu penggabungan dua budaya tanpa menghilangkan budaya sendiri. Apabila hari ini memang terjadi degradasi moral di sebabkan budaya luar atau moderniasi maka bisa dikatakan bahwa banyak dari kita yang melakukan asimilasi, baik secara sadar (Conscious Mind) atau tidak sadar (Unconscious Mind). Hilangnya budaya sendiri dan berkembangnya budaya baru yang memungkinkan terjadinya degrasi moral pada kader HMI.
Wajar Nurcholish Madjid atau akhrab di sapa Cak Nur pernah menggambarkan di dalam buku Api Islam bahwa islam yang ia pahami di analogikan dengan segitiga yang di bagi menjadi tiga sisi. Sisi yang paling bawah: Keislaman, sisi tengah: Keindonesiaan, dan sisi yang terkahir Kemoderenan. Keislaman yang kita memiliki tanpa menghilkangkan budaya indonesia dan bisa terus di pakai terhadap perkembangan zaman. Penulis pikir analogi pemahaman islam Cak Nur dengan segitiga yang di bagi tiga ini bisa menjadi bahan acauan dalam segi moral. Karena di dalam islam kita juga belajar bagaimna akhlak yang baik dan buruk. Islam juga lebih mendahulukan adab dari pada ilmu (“Al adabu fauqol ilmi”).
Di dalam pedoman perkaderan di jelaskan bahwa kita sebagai kader HMI agar bisa profersional dalam menjalan tugas dan tanggung jawab sebagai kader HMI. Menuruut hemat penulis, profesional adalah bagaimana kita bisa menepatkan sesuatu pada tempatnya. Bagaimana sikap kepada sesama, kepada yang dewasa dari kita, dan kepada yang lebih muda dari kita. Di minang juga kita kenal dengan kato nan ampek. Tidak pun seorang kader HMI yang berasal dari minang atau orang minang asli tentu tahu dan paham dengan hal demikian.
Oleh: Kakanda Afdhol Auliya (Mantan Ketua Umum Komisariat Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Bukittinggi Periode 2019-2020)