
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sudah berusia 74 tahun sejak di dekralasikannya pada tanggal 4 Februari 1947 di Yogyakarta. 74 tahun HMI berdiri dengan berbagai dinamika yang ada, baik pada tataran internal HMI ataupun eksternal HMI. Tantangan yang di hadapi HMI dahulu tentunya berbeda dengan apa yang di hadapi di masa sekarang. Jika dahulu pada fase perjuangan bersenjata (1947-1949), HMI ikut membantu pemerintah untuk menumpas pemberontkan PKI dengan memiliki pasukan khusus yaitu CM (Corps Mahasiswa) yang didirikan oleh wakil ketua PB HMI Ahmad Tirtosudiro. Pada masa sekarang HMI tidak lagi ikut serta menumpas PKI, karena PKI sudah di bubarkan. dan pasukan khusus HMI (CM) tidak dibutuhkan.
Kejayaan di masa lalu tidak kita pungkiri menjadi kebanggan tersendiri bagi kader HMI. Pada setiap acara formal maupun non formal HMI sering terdengar dari kader ataupun senior HMI mengutarakan sejarah kejayaan HMI di masa lalu. Tidak menjadi masalah kader-kader HMI membanggakan hal demikian. Namun yang kita perlu cermati bahwa kita tidak boleh terlalu euforia dengan kejayaan HMI di masa lalu hingga terjadi pengkultusan. Pengultusan sejarah kejayaan HMI memungkinkan terjadi mendiskreditkan hal lain. Wajar islam tidak menyukai hal-hal yang berlebihan; (Al-Araf:31). Cukup kita jadikan sejarah kejayaan tersebut sebagai ikhtibar bagi kita semua. Karena kejayaan di masa lalu dan situasi dan kondisi yang kita lihat pada hari ini jauh berbeda. Hari ini kita melihat permasalahan dan tantangan yang berbeda. Tentunya memiliki solusi dan jalan perjuangan yang berbeda pula.
HMI yang berperan sebagai organisasi perjuangan yang tertuang di dalam AD HMI pasal 9 bahwa HMI sudah berjuang sedari dahulu hingga sekarang baik fisik maupun non fisik. Di abad 21 ini kita di hadapi dengan perjuangan ide dan gagasan. Sebagai kader HMI yang memiliki budaya Membaca, Diskusi, dan Menulis yang runtutannya akan berbeda pada setiap kader. Kita jadikan budaya tersebut sebagai senjata untuk terus berjuang di atas jalan kebenaran. Kita membela dan memperjuangankan hak-hak kaum tertindas (mustada’afin) dan melawan kaum penindas (mustakbirin) yang tertuang di dalam pedoman perkaderan HMI. Sebelum terlalu jauh kita mulai memperbaiki dalam tataran internal HMI, baik komisariat atau cabang. Timbul pertanyaan; Apa tantangan yang di hadapi HMI di masa sekarang ? , penulis berpendapat semua kader HMI memiliki jawaban yang relatif dan beragam, tergantung permasalahan apa yang ada di masing-masing komisariat atau cabang dari kader HMI se indonesia. Tidak terlalu jauh dan lingkup besar, Penulis berusaha mengamati permasalahan pada komisariat dan cabang tempat penulis berproses untuk di kaji dan di kupas.
Sesuai dengan judul di atas bahwa penulis melihat sudah terjadinya pengikisan nilai-nilai, sikap, karakter pada kader HMI. Hal tersebut terjadi tidak hanya pada kader HMI. Degradasi moral terjadi pada kalangan milleneal di abad 21 ini. Di buktikan dengan keluarnya surat edaran etika menghubungi dosen via online di salah satu kampus yang ada di Sumatera Barat. Kominukasi online ataupun langsung tentunya memiki kesamaan dan perbedaan. Terlepas dari itu semua, kita sebagai mahasiswa seharusnya tahu dan paham bagaimana cara yang baik untuk berkomunikasi. Hal yang serupa sering di temui di kalangan HMI tempat penulis berproses. Tidak jarang terjadinya kesalahan dalam berkomunikasai via online atau secara langsung. Mulai dari tidak adanya salam dan basa-basi di awal pesan sampai kata-kata yang tidak pantas. Kuatnya rasa kekeluargaan atau dikenal rasa dan periksa (raso jo pareso) di Sumatera Barat khususnya bagi masyarkat minangkabau tidak bisa di jadikan tolak ukur untuk seseorang berprilaku baik dalam berkomunikasi. Semestinya kita bisa pelajari dan lakukan. Namun nyatanya kita yang orang minang dan juga kader HMI belum mampu untuk berkomunikasi dangan baik dan benar. Apakah karena modernisasi yang berkembang pada saat ini hingga terkikisnya budaya kita sendiri ? atau karena kader HMI hari ini tidak mengetahui tata cara berkomunikasi yang baik.
Modernisasi yang berkembang pesat yang kita lihat dan rasakan hari ini memang memiliki banyak dampak positif. Banyaknya dampak positif tidak menutup kemungkinan berbarengan dangan dampak negatif. Dalam ilmu sosiologi, ada dua bentuk sikap kita melihat budaya baru yang masuk ke budaya sendiri. Asimilasi yaitu penggabungan dua budaya (budaya sendiri dengan budaya lain) yang menghasilkan budaya baru. Sedangkan Akulturasi yaitu penggabungan dua budaya tanpa menghilangkan budaya sendiri. Apabila hari ini memang terjadi degradasi moral di sebabkan budaya luar atau moderniasi maka bisa dikatakan bahwa banyak dari kita yang melakukan asimilasi, baik secara sadar (Conscious Mind) atau tidak sadar (Unconscious Mind). Hilangnya budaya sendiri dan berkembangnya budaya baru yang memungkinkan terjadinya degrasi moral pada kader HMI.
Wajar Nurcholish Madjid atau akhrab di sapa Cak Nur pernah menggambarkan di dalam buku Api Islam bahwa islam yang ia pahami di analogikan dengan segitiga yang di bagi menjadi tiga sisi. Sisi yang paling bawah: Keislaman, sisi tengah: Keindonesiaan, dan sisi yang terkahir Kemoderenan. Keislaman yang kita memiliki tanpa menghilkangkan budaya indonesia dan bisa terus di pakai terhadap perkembangan zaman. Penulis pikir analogi pemahaman islam Cak Nur dengan segitiga yang di bagi tiga ini bisa menjadi bahan acauan dalam segi moral. Karena di dalam islam kita juga belajar bagaimna akhlak yang baik dan buruk. Islam juga lebih mendahulukan adab dari pada ilmu (“Al adabu fauqol ilmi”).
Di dalam pedoman perkaderan di jelaskan bahwa kita sebagai kader HMI agar bisa profersional dalam menjalan tugas dan tanggung jawab sebagai kader HMI. Menuruut hemat penulis, profesional adalah bagaimana kita bisa menepatkan sesuatu pada tempatnya. Bagaimana sikap kepada sesama, kepada yang dewasa dari kita, dan kepada yang lebih muda dari kita. Di minang juga kita kenal dengan kato nan ampek. Tidak pun seorang kader HMI yang berasal dari minang atau orang minang asli tentu tahu dan paham dengan hal demikian.

