
Istilah Hiperstruktural agaknya masih asing terdengar ditelinga kita. karena dalam perkembangan bahasa dan kosa kata, kita tidak menemukan satupun istilah ilmiah yang berbicara tentang Hiperstruktural. Oleh karena nya wajar saja ketika mendengarkan istilah ini banyak yang masih merasa asing dan belum tau. Namun, berkat refleksi secara mendalam terhadap semiotika di HMI sekarang saya ingin mengkonkretkan fenomena ini dengan istilah Hiperstruktural. Lantas apa itu Hiperstruktural?
Secara sederhana kita dapat membuat taksonomi terhadap istilah Hiperstruktural ini dengan kata “Hiper” dan “Struktural”. Hiper dapat berarti berlebih-lebihan, Diluar atau terlampau, dan melampaui batas. Sementara Struktural bisa diartikan sebagai susunan, atau cara sesuatu disusun dan dibangun dengan pola tertentu. Namun, vektor dari kata struktur yang kita maksudkan disini bukan dalam kaca mata filsafat dan sosiologi, melainkan dalam sudut pandang etimologi dan terminologi secara semiotika. Sebab dalam ranah filsafat, sosiologi dll kata struktural sering diasosiasikan dengan Istilah strukturalisme dan Pos-strukturalisme. Tentunya akan menimbulkan interpretasi yang berbeda nantinya. Walaupun Semiotika juga menjadi salah satu kajian sosiologi, akan tetapi hal ini bertujuan untuk merumuskan Istilah Hiperstruktural semata. Sebab istilah struktural bisa terasosiasi bahkan terkontaminasi dengan pemikiran strukturalisme(pos strukturalis) nantinya jikalau seandainya kita tidak membuat taksonomi nya terlebih dahulu. Barangkali dalam konteks lain nanti bisa kita gunakan, tapi tidak dalam hal defenitif.
Dari uraian diatas dapat kita jelaskan bahwa Hiperstruktural adalah hasrat berlebihan untuk mendominasi orang lain, atau mendominasi sesuatu dengan menempuh nya melalui jalur kekuasaan struktural. Singkat nya Hiperstruktural dapat diartikan sebagai “Excessive will to power” (kehendak berlebihan untuk berkuasa), ” The desire to dominate” (Hasrat untuk mendominasi) and “Thirst for power or thirst for the existence of power” (Haus kekuasaan atau haus akan eksistensi kekuasaan). akan tetapi Hiperstruktural tidak bisa dimaknai sepenuhnya sebagai narsisme patologis. Karena Hiperstruktural terkualifikasi sebagai bentuk naluri instingtif manusia mencapai kepuasan eksistensi nya melalui struktural kekuasaan. yang mana struktur kekuasaan ini telah menjadi ajang superioritas. Kita bisa saja golongkan ini kedalam gejala patologis, Hanya saja keadaan yang dinamis bisa saja akan menjadi kan nya sebagai tindakan yang berkonotasi positif. oleh karena nya kita tak bisa menempatkan nya ke keranjang patologis secara integral, melainkan dinamis sesuai keadaan. Lantas bagaimana dengan Hiperstruktural di HMI?.
Kita bisa melihat bagaimana kondisi HMI hari ini yang kian hari cahaya nya mulai meredup sebagai katalisator Umat dan bangsa. Endang Saefudin anshari pernah mengatakan bahwa komitmen HMI itu adalah Komitmen keumatan, komitmen keindonesiaan, dan komitmen kemahasiswaan. agaknya komitmen ini tidak dijalankan secara konsisten sehingga banyak sekali problematika yang memerlukan resolusi namun tidak dapat di manuver oleh kader HMI yang katanya adalah katalisator. kader HMI sekarang juga lebih banyak berkutat pada politik praktis untuk mendapatkan kekuasaan struktural ketimbang menjawab tantangan dan problematika zaman. Kehausan akan menjabat di struktural ini lah yang kita sebut sebagai Hiperstruktural. Orang yang haus biasanya akan mengalami dehidrasi, untuk menghindari dehidrasi tersebut maka satu-satunya alternatif yang mesti diambil adalah menghilang kan nya dengan air minum. Sama seperti Hiperstruktural, dehidrasi akan eksistensi tersebut hanya akan menyuguhkan satu alternatif yaitu menjabat di struktural HMI. Lazimnya jabatan itu adalah posisi-posisi yang strategis.
Lalu apa alasan yang menyebabkan kader HMI era sekarang sangat haus akan struktural dan cenderung berlebihan? faktor yang paling determinan adalah kader HMI sekarang telah kehilangan kreativitas dan inovasi nya, padahal setiap kader HMI itu punya potensi dalam ordinal yang berbeda-beda. Salah satu prototipe nya adalah adanya psikis kader yang punya karakter narsistik kemudian mengambil ekstraksi dari superioritas seseorang yang ada di struktural sehingga menimbulkan kesan tersendiri baginya. Dengan demikian sikap narsistik nya akan berbuah pada “Will to power“. Contoh yang paling determinan lainnya adalah dalam soal wadah pengembangan potensi. Jika kita telisik lebih dalam tentu ada banyak sekali tempat untuk mengembangkan potensi tersebut di HMI. Seperti adanya Lembaga Pengembangan profesi yang menjurus pada bakat dan minat seorang kader entah itu kesenian, Ekonom, Pers, Menulis, Kajian-kajian intelektual melalui struktural HMI tertentu, dan sbgnya. tapi paradoks nya dari sekian banyak ladang proses yang di suguhkan tetap saja menjadi Elite di HMI atau menjabat di Struktural HMI auh lebih masif untuk dikejar dan diburu.
Kita tak bisa mengidentifikasi lebih jauh apa motivasi nya ingin mengejar struktural secara masif. Akan tetapi kita bisa membuat premis-premis untuk menguak fenomena ini. Premis pertama adalah ingin mencari popularitas dengan berada pada posisi strategis di struktural HMI. Barangkali ia ingin dapat berdiri di hadapan/di depan orang-orang pada acara Ceremonial agar tampak kharismatik, keren, dan superioritas. Sehingga berada di posisi strategis akan melanggengkan niat nya itu. Premis kedua ingin diakui eksistensi nya. Ada banyak faktor sebetulnya yang menjadikan seseorang sangat ingin dan suka sekali diakui keberadaan nya serta diterima oleh banyak kalangan. akan tetapi pengakuan disini adalah imperatif superioritas agar ia dipandang hebat, mumpuni dan berkualitas. Pada dasarnya menurut Abraham Maslow memang manusia itu membutuhkan pengakuan dari manusia lain. Akan tetapi cara mendapatkan pengakuan dan reward itu melalui “Hiperstruktural” tentu saja adalah niat dan langkah yang keliru. Pasalnya menjabat di struktural itu ditentukan oleh niat, Kualitas dan dedikasi/bertanggungjawab (Selain syarat di konstitusi). Walau secara faktual itu adalah tempat terakumulasi nya kepentingan oligarki. Akan tetapi itu adalah konteks yang lain dan mungkin bisa kita jabarkan di tulisan berikutnya. Insya Allah.
Oleh karena itu, Jangan jadikan struktural sebagai wahana permainan individu dan permainan kelompok tertentu. Karena sumpah jabatan itu adalah sesuatu yang mesti dipertanggungjawabkan di dunia maupun akhirat kelak. Sebab itu jangan jadikan ia sebagai wahana permainan. Tak ada salahnya kita mencontoh pada Ayahanda Lafran Pane sebagai salah satu Founder HMI dalam dedikasi nya. dengan ada nya HMI, Tujuan nya hanya dua yaitu mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia dan menyiarkan ajaran-ajaran Islam. Beliau cukup konsisten dalam hal ini, pasalnya hal apa saja yang bisa mengganggu tujuan ini akan dihindari nya. Bahkan agar HMI tidak diklaim di radius lingkungan kampus Lafran Pane saja, ia rela memberikan jabatan itu pada yang lain untuk membumikan HMI. bahkan pernah juga ia di legitimasi sebagai Pendiri HMI oleh Junior-junior nya kelak karena sumbangsih Lafran Pane yang begitu besar bagi HMI, akan tetapi ia tetap menolak karena baginya ia hanya salah satu founder HMI, bukan satu-satunya. disini tampak bahwa Lafran Pane secara syukur dan ikhlas mendedikasikan diri nya untuk HMI tanpa menginginkan suatu imbalan apapun baik popularitas, Reward, dan seterusnya. hal ini lah yang mesti kita contoh dari beliau dalam berproses di HMI. seperti perkataan beliau “Jangan tanyakan apa yang akan diberikan HMI kepadamu, tapi tanyakan lah apa yang sudah kau berikan pada HMI”.
Terkait Hiperstruktural, resolusi yang bisa kita tempuh ada dua yaitu :
- Meluruskan niat dan Mendedikasikan diri secara ikhlas.
Dalam hadist Nabi Muhammad SAW dikatakan “Innamal a’malu binniyat” yang artinya sesungguhnya segala sesuatu itu tergantung pada niat nya. oleh karena itu meluruskan niat ber HMI adalah suatu kewajiban bagi setiap kader. karena tanpa niat yang lurus, HMI akan menjadi tempat terakumulasi nya Manusia Parasit atau Nematoda yang akan mencederai haluan HMI. setelah meluruskan niat, maka mendedikasikan diri pun mesti ikhlas dalam berbuat. Artinya tidak meminta suatu feedback dan imbalan apapun. Hanya dengan demikian setiap kader bisa mendedikasikan diri secara total dan loyal di HMI. jika sekiranya ia mengharapkan imbalan, tentu saja perbuatan nya akan cenderung setengah-setengah karena melihat feedback dan imbalan nya terlebih dahulu. Untuk itu loyalitas dan totalitas ber HMI dapat di aktualisasi kan melalui dedikasi secara ikhlas. jika sudah seperti itu, maka budaya Hiperstruktural tersebut akan terkikis dan berangsur lenyap. Sehingga nya mereka yang berada di struktural HMI adalah orang-orang yang terseleksi, terkualifikasi dan bertanggungjawab.
- Meningkatkan kreativitas dan inovasi.
Dalam buku hasil Kongres HMI di pekanbaru dijelaskan bahwa HMI adalah organisasi kreatif inovatif, bukan organisasi massa. Agaknya ini adalah dikotomi yang dibuat agar HMI kembali pada citra nya. Selaras dengan itu, di tujuan HMI pasal 4 Ada Redaksi “Pencipta”. jika diturunkan atau direduksi lebih dalam maka di dalam nya juga terdapat kreativitas dan inovasi. Adalah suatu hal mustahil dari sekian banyaknya kader HMI se-Nusantara tak ada yang memiliki kreativitas dan inovatif. Oleh karena nya kegiatan-kegiatan yang melahirkan kreativitas dan inovasi mesti digencarkan agar hasrat kekuasaan dapat diminimalisir bahkan dilenyapkan. Ambil misal begini : dalam satu komisariat berjumlah sekitar 400 orang. Jika ladang pengembangan potensi dimasifkan maka kegiatan produktif akan banyak terwujud kan. Seperti ada 100 orang yang tekun di bidang tulis/menulis dan kanjan, 100 orang lagi pada bidang kesenian, 100 orang lagi pada bidang perkaderan, dan 100 lagi pada kegiatan perekonomian yang menghasilkan pendapatan penghasilan bagi komisariat tersebut untuk dana dan kas yang akan dipakai dalam berbagai kegiatan komisariat kedepan nya. Dan masih banyak contoh lain nya. Oleh karena itu peningkatan kreativitas dan inovasi secara masif dan produktif akan mendekonstruksi “Hiperstruktural” dengan sendirinya.
Semoga bermanfaat.


Saya sepakat dengan resolusi terkait hiperstruktural yang kanda coba berikan dalam artikel kanda ini. Tetapi timbul pertanyaannya jika mereka sadar akan fenomena ini pasti ada keinginan untuk berubah, jika tidak? Lantas bagaimana cara merubah dan mengembalikan title kader HMI yg tidak hiperstruktural?
SukaSuka