
Berbicara tentang sejarah, hal ini sejenak mengingat kan training saya di HMI dalam kurun waktu 2 tahun ini yaitu Intermediate training (LK2) dan Senior Course (SC). Pada intermediate training saya mengambil tema makalah yang berkaitan dengan sejarah HMI, kemudian di Senior Course (SC) saya mengambil Sindikat tentang Sejarah juga yang memuat tentang Sejarah Peradaban Islam, sejarah Islam masuk ke Nusantara dan Sejarah HMI. sehingga nya berbicara tentang sejarah HMI bukanlah suatu hal yang asing lagi bagi saya. Karena di training saya telah ditempa untuk benar-benar telaten dalam memahami sejarah HMI. Walaupun masih banyak hal juga yang belum saya ketahui akibat referensi yang boleh dikatakan kurang cukup untuk bisa mendalami keseluruhan alur nya. Namun dengan tempaan itu setidaknya saya telah merangkum juga poin² dasar yang menjadi alur sejarah perjuangan HMI yang mana hal ini telah memproduksi perspektif baru dalam pikiran saya dan tentunya sesuai dengan kapasitas dan kualitas pikiran saya sejauh ini.
Pada umumnya sejarah dapat didefinisikan sebagai peristiwa yang benar-benar terjadi dimasa lampau yang dapat dibuktikan kebenarannya. Sehingga nya untuk membuktikan itu semua dibutuhkan 3 instrumen didalam nya yaitu : Manusia, tempat dan waktu. Ambil misal begini, kita ingin mencari tahu kebenaran dari seorang tokoh. Kita harus cari tau namanya terlebih dahulu, misalkan nama nya Thales. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang Thales maka anda harus mencari tau ia berasal dari mana, atau tinggal dimana atau sedang berada dimana. oh ternyata Thales berasal dari Yunani kuno. untuk benar-benar mengetahui kebenarannya lebih jauh lagi anda mesti mengetahui kapan ia hidup?. jika sekiranya anda tidak mengetahui nya maka akan sangat susah melacak kebenaran dari tokoh yang anda cari Tsb karena boleh jadi di Yunani itu ada banyak orang yang bernama Thales. nah untuk memudahkan nya maka kita memerlukan informasi tentang waktu. oh ternyata Thales hidup pada abad ke 6 sebelum masehi. sehingga nya hal ini semakin memudahkan Anda untuk mengetahui kebenaran nya lebih lanjut.
Secara bahasa sejarah berasal dari kata “Syajaratun” dalam bahasa Arab yang berarti “Pohon kehidupan”. jika kita lihat pohon itu memiliki batang , memiliki akar dan seterusnya. ia tumbuh kemudian mati. Begitu juga halnya dengan sejarah yang juga memiliki pasang surut dengan rentetan perjalanan yang dinamis. Pada dasarnya manusia sering atau suka belajar dari sejarah, sehingga sejarah kadangkala menjadi salah satu aspek pembelajaran dalam kehidupan. seperti dalam ungkapan pepatah minang “Baraja ka nan alah sudah” (Belajar ke yang telah lewat/terjadi). Terkait sejarah, kita bisa contoh kan secara lebih sederhana lagi. ambil misal begini, hari ini anda duduk di sebuah cafe simpang presiden dengan membeli nasi goreng dan kopi susu. Pada keesokan harinya ketika Anda pergi ke cafe itu kembali maka peristiwa sebelum nya di cafe itu merupakan sejarah bagi diri anda bahwa sebelum nya anda pernah bertandang di cafe itu. Dalam Contoh lain dicafe itu misalkan anda pernah mengalami peristiwa tragis yaitu diputuskan oleh kekasih anda, pada waktu berikutnya anda bertandang di cafe itu momen diputuskan itu adalah representasi dari peristiwa sejarah yang pernah terjadi di diri anda. Sederhana nya, apa yang pernah terjadi dimasa lalu bagi diri kita itu adalah bagian dari sejarah. ini dalam tataran internal diri saja, dalam eksternal diri pun juga relatif sama dengan sejarah di wilayah internal diri.Sekarang kita coba masuk pada konteks pembahasan sejarah HMI.!
Atas semua torehan sejarah yang pernah dilakukan oleh HMI untuk umat dan bangsa Indonesia dari sejak awal berdirinya pada 1947 tentu nya sangat layak ketika HMI ditempatkan sebagai salah satu organisasi yang kapabel , berkualitas, berdedikasi tinggi serta organisasi elite yang pernah dimiliki oleh bangsa Indonesia. Mengapa demikian? pasalnya HMI telah melewati berbagai dinamika keislaman dan keindonesiaan secara masif sebagai katalisator umat dan bangsa Indonesia. Kita bisa melihat pada fase perjuangan fisik yang pertama pada tahun 1948 dimana kader-kader HMI turut berpartisipasi untuk melumpuhkan gerakan pemberontakan PKI nya Muso yang ingin mengambil alih kekuasaan dengan menguasai berbagai tempat seperti di Madiun dan Solo. PKI dinyatakan sebagai pengkhianat karena ingin menusuk bangsa Indonesia yang baru saja merdeka dari belakang dengan cara mengkudeta kekuasaan. Kader-kader HMI kalau itu banyak yang dilatih oleh militer sehingga mereka membentuk suatu kelompok yang disebut sebagai Corps Mahasiswa (CM) dan berpartisipasi bersama dengan militer untuk memberantas pemberontakan PKI. Akhirnya pemberontakan itu pun dapat dilumpuhkan.
Ada fakta menarik pada tahun 1948. Tepatnya pada 05 februari ditahun itu dalam acara Diesnatalis HMI yang pertama Jenderal Soedirman mengatakan dalam sambutan nya bahwa “HMI tidak hanya sekedar Himpunan Mahasiswa Islam, namun HMI juga berarti Harapan Masyarakat Islam Indonesia”. Kata-kata ini lazim dipakai hingga era sekarang oleh kader-kader HMI. Selanjutnya, pada tahun 1949 bangsa Indonesia kembali di uji eksistensi nya. dimana Belanda melakukan agresi militer ke Indonesia sebab mereka tak rela bangsa Indonesia merdeka secara cuma-cuma saja. Agresi militer pun terjadi. HMI pun turut membantu militer dalam upaya mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia tersebut. Walau akhirnya upaya perjuangan fisik ini berakhir dengan jalan diplomasi di Konferensi Meja Bundar (KMB) 27 Desember 1949. pada tahun-tahun berikutnya dari tahun 50 an hingga pertengahan 60 an HMI juga mengalami ujian eksistensi. dimana PKI bangkit kembali dan semakin gencar menyerang HMI dalam bentuk perlawanan politik. apalagi setelah Masyumi dibubarkan, mereka sering mendengungkan bahwa HMI adalah organisasi yang kontra revolusioner.
PKI pun meminta pada bung Karno untuk membubarkan HMI dengan dalih tersebut. tepatnya pada tahun 1964 dimana PKI melakukan demonstrasi untuk membubarkan HMI. di spanduk mereka tertera “Ganyang HMI” “Bubarkan HMI” Lenyapkan HMI” dan seterusnya. Hal ini terjadi karena HMI dianggap sebagai batu penyandung mereka, sehingga nya mereka berupaya untuk membubarkan HMI agar rencana mereka berjalan mulus. Dalam pidatonya DN. Aidit melontarkan pernyataan serupa untuk “Mengganyang HMI”. Tatkala bung Karno memberi sambutan di kala itu, beliau menegaskan bahwa ” HMI itu adalah organisasi progresif revolusioner. Jika mereka kontra revolusioner maka aku sendiri yang akan membubarkan nya”. Sehingga nya PKI pun semakin kesal kepada HMI yang mana mereka tidak berhasil membujuk bung Karno untuk membubarkan nya. Tapi mengapa PKI sebegitu kerasnya ingin membubarkan HMI? jawaban yang paling utama adalah karena adanya rasa dendam dikalangan PKI akibat peristiwa 1948. dimana HMI turut serta melumpuhkan gerakan pemberontakan mereka.
Setelah PKI dilenyapkan oleh militer akibat pemberontakan mereka lagi pada 30-September-1965, ternyata pengujian eksistensi itu tak jua berhenti dimana HMI berjuang melawan otoritarianism atau bahkan totalitarianism orde baru kala itu. tepat pada tahun 1985, Presiden Soeharto menerapkan UU no 8 tahun 1985 tentang asas tunggal Pancasila yang mana segala Ormas, Lembaga dan seterusnya wajib berasaskan pancasila. Puncaknya terjadi pada Kongres ke 16 di Padang pada tahun 1986 dimana akibat penerapan asas tunggal ini HMI menjadi terpecah antara yang mempertahankan asas Islam dengan yang mau mengamankan eksistensi organisasi dengan Asas Pancasila. Akhirnya dari peristiwa itu lahirlah HMI dipo dan HMI MPO. kata dipo diambil dari nama jalan Diponegoro tempat sekretariat PB HMI kala itu, dan MPO berarti sebagai majelis penyelamat organisasi yang mempertahankan asas Islam. Begitu juga dengan ideologi HMI yaitu nya NDP (Nilai-nilai dasar perjuangan). kata perjuangan disini dianggap makar oleh pemerintahan orde Baru sehingga nya kata NDP pun mulai mengalami pergantian nama yaitu nya NIK (Nilai-nilai identitas kader).
Di tahun-tahun berikutnya, HMI jua turut berpartisipasi untuk meruntuhkan dominasi orde Baru kala itu pada 1998 yang kita kenal dengan sebutan Reformasi. Sehingga setelahnya HMI mulai sedikit lega dengan sistem yang lebih demokratis setelahnya. Akhirnya asas tunggal Pancasila mulai dihapuskan, HMI kembali berasaskan Islam dan NIK berubah kembali menjadi NDP pada Kongres ke 22 di Jambi tahun 2000. Dalam konteks ideologi NDP, pada Kongres ke 25 di makassar melahirkan sebuah rekonstruksi NDP yang dikenal dengan sebuah “NDP baru”. merasa bahwa NDP ini berbau Syah dan lebih dekat dengan NDP arianto maka PB HMI periode 2008-2010 melakukan evaluasi terkait masalah ini agar NDP cak Nur tetap orisinal tanpa terkontaminasi oleh pemikiran² seperti NDP baru yang dianggap tidak lebih baik dari NDP cak Nur. Pihak-pihak yang mengkritik hal ini diantara nya adalah Azhari akmal tarigan, Amrullah yasin dan Kun nurachadijat. puncaknya pada Kongres ke 27 di depok tahun 2010 NDP cak Nur ditetapkan sebagai NDP HMI.
Ada hal menarik terkait dinamika HMI pasca orde Baru runtuh, dimana ketua umum PP muhammadiyah tahun 1999 mengkritik HMI dimana ia menganggap bahwa kader HMI sekarang lebih terkonsentrasi pada intelektualitas dan mengabaikan spiritualitas sehingga nya HMI mulai mengalami fase-fase kemunduran nya. hal ini bisa kita benarkan, pasalnya setelah orde Baru runtuh HMI mulai berkonflik dengan dirinya sendiri. Entah itu karena tak ada musuh yang nyata atau karena kualitas kader yang menurun atau karena kondisi zaman yang mapan, intinya HMI mulai terjebak pada konflik berkepanjangan terhadap wujud nya sendiri. Seperti tumbuhnya feodalisme, nepotisme, kolusi afinitas dan seterusnya di dalam tubuh HMI sehingga nya kader HMI lebih sibuk mengurus internal nya saja dan melupakan wilayah eksternal nya seperti realitas sosial yang terpaut pada kemaslahatan umat dan bangsa Indonesia. Oleh sebab itu dari waktu ke waktu ruh perjuangan itu mulai terkikis perlahan-lahan. Jika dikatakan tidak ada musuh lagi di zaman ini sebab orde Baru telah runtuh dan Reformasi telah terlaksana maka ini adalah sesuatu paradigma yang keliru. Sebab Reformasi hanya sekedar berada dalam tataran peristiwa belum berpindah pada tataran aktualisasi sepenuhnya. Menjaga cita-cita Reformasi dan menjawab tantangan zaman itu adalah hal urgen yang mesti terus diperjuangkan.
Namun tampaknya dewasa ini HMI semakin mengalami kemunduran-kemunduran pencapaian. orang mungkin takkan melupakan jasa HMI di bumi pertiwi, namun kebesaran sejarah dimasa lalu tersebut seharusnya mengilhami setiap relung kader-kader HMI untuk membuat sejarah dimasa nya. G. W. F Hegel pernah mengatakan “Perlakuan paling bodoh terhadap sejarah adalah kita tidak mau belajar darinya”. Saya yakin dan percaya torehan pencapaian HMI dimasa lalu tak lepas dari ” Syukur dan Ikhlas ” dalam mendedikasikan diri secara total di HMI. Mereka sibuk berperang, bukan sibuk mengangkang. Mereka sibuk berjuang bukan mengakumulasi uang. Mereka sibuk berbuat, bukan menghujat. Sehingga nya dari mereka lah termanifestasikan segala kebesaran sejarah dimasa lalu ke regenerasi HMI yang sekarang. Akhirnya, kita hanya menjadi besar karena kebesaran yang diwariskan bukan kebesaran yang didapatkan dengan perbuatan dan perjuangan. Kita pun tampil heroik dengan kemapanan sejarah yang ada, hingga kerap mengkultuskan nya dengan euforia semata. Seringkali pengkultusan itu melalaikan kita untuk berbuat atau menorehkan sejarah baru. Karena pada keadaan yang mapan tentu saja akan membungkam kekritisan. sebagai mana ujar master mualimin bahwa Kemapanan sejatinya akan membungkam kekritisan. ini mirip dengan gerakan newleft dimasa pertengahan abad 20 dimana mereka menolak establishment (kemapanan).
Pengkultusan terhadap sejarah HMI sendiri dapat diartikan sebagai penghormatan secara berlebih-lebihan akan kebesaran sejarah HMI dimasa lampau. Dalam keadaan berlebih-lebihan seperti ini kita khawatir akan adanya keangkuhan yang muncul sebagai akibat gejala narsisitik yang membuat ia menganggap bahwa hanya organisasi nya lah yang paling superior dan heroik. Hal yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah lalai dan bungkam. Misal dalam hal asmaranisasi : orang yang baru jatuh cinta cenderung mengalami pengkultusan individu terhadap orang yang dicintainya. Bahkan dalam keadaan mabuk cinta itu ia cenderung lalai karena terbawa hasrat asmara nya yang selalu ingin berduaan, nelpon, chat dan seterusnya. Ketika orang yang dicintai ada bertindak salah/ keliru ia tetap membenarkan nya karena ia telah dibungkam oleh kemapanan cinta. begitu juga dengan pengkultusan sejarah HMI akan membuat kita seperti mabuk cinta. Oleh karena itu perlakuan kita yang paling tepat untuk sejarah adalah dengan menjadi kan nya sebagai refleksi dan barometer tindakan.
Seperti orang yang jatuh cinta, kita mesti melekat kan Rasionalitas untuk menjinakkan perasaan, karena jika tidak kita akan dibutakan oleh cinta sehingga kehilangan obyektivitas dan eksistensi. Sama seperti perlakuan kita terhadap sejarah HMI, kita jua mesti melekatkan rasionalitas di dalam nya agar tak kehilangan obyektivitas dalam menjadikan sejarah sebagai barometer tindakan. Serta tak lupa akan eksistensi diri sendiri bahwa setiap orang ada masanya dan setiap masa ada orang nya. dan hari ini adalah masa kita, serta kita lah orang nya. Namun tetap saja segala torehan mesti dijemput dengan ikhtiar, perjuangan dan dedikasi secara total dan loyal. Karena muara pencapaian adalah proses yang penuh lika-liku dengan segala dinamika dan pergolakan nya. Biarlah takdir yang menentukan akhiran nya. Oleh karena itu diabad 21 ini yang harus dilakukan oleh kader-kader HMI adalah membuat sejarah bukan sekedar mengkultuskan sejarah. Mereka yang bertindak untuk menciptakan sejarah adalah jembatan menuju kemenangan dan kematangan. sementara mereka yang hanya sekedar mengkultuskan sejarah adalah mereka yang ingin memperoleh pengakuan semata atas The great history HMI di masa lalu yang akan selalu infantil dan kalah.
Itu masa mereka dan ini masa kita. Mari berbuat, Kita hebat!. Corona menguat, HMI menggugat!.
Sekian terimakasih.
